Pandangan MUI soal ‘Muazin’ di Cuitan Jokowi

  • Whatsapp
mui

Cupang99 – Cuitan Presiden Joko Widodo (Jokowi) soal muazin di salat Idul Adha ramai disorot sejumlah pihak di media sosial. MUI kemudian menyampaikan pandangannya, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa, Asrorun Ni’am mengatakan tidak ada masalah dengan sebutan ini dari sisi agama. MUI menilai urusan ini tak patut diributkan.

Peristiwa ini bermula saat Presiden Jokowi diketahui menunaikan salat Idul Adha di Istana Bogor, Selasa (20/7/2021). Dalam akun Twitter-nya, Jokowi menyebut muazin di salat Idul Adha tersebut adalah anggota Paspampres.

“Salat Idul Adha pagi ini di halaman Istana Bogor dengan jamaah terbatas. Bertindak sebagai muazin, imam, dan khatib adalah anggota Paspampres,” tulis Jokowi seperti dilihat detikcom, Rabu (21/7).

“Kata sang khatib, ‘semua cobaan dapat kita lalui dengan baik bila dihadapi dengan sabar’,” sambung Jokowi.

Cuitan Jokowi soal muazin di salat Idul Adha itu pun menuai reaksi warganet. Ada yang mempertanyakan dan heran kenapa ada muazin dalam salat Idul Adha.

Sejumlah tokoh agama Islam, MUI hingga Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas lalu menyampaikan pandangannya terkait polemik muazin di salat Idul Adha. Sebagai berikut.

Komisi Fatwa MUI: Tak Masalah dari Sisi Agama

Cuitan Jokowi soal muazin di salat Idul Adha mendapat sorotan warganet. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa, Asrorun Ni’am mengatakan tidak ada masalah dengan sebutan ini dari sisi agama.

Asrorun Ni’am menjelaskan asal-usul kata muazin dari bahasa Arab. Secara bahasa, muazin artinya ialah orang yang menyeru dalam konteks ibadah.

“Muazin itu dari bahasa Arab, isim fail dari ‘fiil adzdzana yuadzdzinu‘ artinya orang yang menyeru. Dalam konteks ibadah, muazin dipahami orang yang menyeru dan mengajak melakukan ibadah,” kata Asrorun Ni’am kepada wartawan, Kamis (22/7/2021).

Berangkat dari definisi tersebut, maka bisa diartikan bahwa muazin ialah orang yang menyerukan ajakan salat id. Oleh karena itu, menurutnya, istilah muazin dalam salat id tidak masalah dari sisi agama.

“Jadi dalam konteks ibadah salat id, muazin yang disebutkan itu orang yang menyeru untuk mengajak melakukan salat id. Jadi, nggak masalah dari sisi agama,” tuturnya.

“Itu soal sebutan. Orang yang azan, dalam tradisi kita, biasa juga disebut sebagai Bilal. Padahal, Bilal itu adalah nama orang yang biasa melakukan seruan. Dan itu tidak jadi masalah,” sambungnya.

Dia mengatakan masalah penyebutan muazin dalam salat id ini memang bisa menjadi objek bully. Dia mengajak semua pihak tidak menghabiskan energi untuk hal-hal yang remeh dan tidak subtansial.

“Kalau orang mau usil, itu juga bisa jadi obyek bullying. Tapi penamaan itu kan yang paling penting adalah maksudnya bisa dipahami. Itu tidak terkait dengan pokok ajaran agama, jadi tidak patut diributkan. Energi kita perlu dicurahkan untuk hal-hal besar dan strategis, khususnya langkah dan kontribusi dalam penanggulangan COVID. Jangan habiskan energi untuk hal remeh, tidak substansial, dan narasi kebencian. Itu tidak baik,” ujarnya.

Penjelasan MUI soal Muazin

Penyebutan petugas yang menyeru untuk salat jemaah, termasuk salat Idul Adha dengan beberapa sebutan, itu adalah fakta dan memiliki landasan keilmuan, historis, dan sosiologis. Ada yang menyebut muazin, dan juga yang menamainya bilal.

Saya menilai hiruk pikuk soal “muazin” pada pelaksanaan Idul Adha itu tidak mencerdaskan, tidak substantif, dan cenderung memecah belah. Hal ini mengingat, secara keagamaan itu tidak menjadi masalah. Bukan kesalahan. Bukan termasuk pokok ibadah, dan juga ada landasan keagamaannya. Namun, juga melahirkan hikmah betapa beragama itu dibutuhkan ilmu keagamaan yang cukup, sebelum menilai, apalagi mencaci dan mem-bully.

Ketika saya ditanya wartawan terkait dengan isu ini, saya jawab sesuai keilmuan saya. Banyak media yang bertanya langsung ke saya, baik lewat telpon maupun WhatsApp. Ada juga yang memperoleh dari media lain lalu mengonfirmasi ke saya.

Beberapa media online menulis dengan judul Ini Kata MUI, Penjelasan MUI, dan sejenisnya. Judulnya datar. Respons juga datar. Berikutnya, salah satu media online mainstream menulis dengan judul jelas mengenai inti yang dipermasalahkan “Tak Masalah dari Sisi Agama”, https://news.detik.com/berita/d-5652277/komisi-fatwa-mui-soal-cuitan-muazin-jokowi-tak-masalah-dari-sisi-agama … maka bullying, nyinyiran, dan komentar negatif banyak mengalir di media percakapan sosial. Mulai dari yang sopan hingga paling kasar. Bahkan ada yang mengatakan “ini harapan kaum kafir”, “penjilat”, “membela orang salah”, “masuk angin”, “mencari pembenaran”, dan berbagai komentar lainnya yang bernada minor.

Untuk itu, saya perlu menyampaikan secara lebih utuh perspektif keilmuan agama tentang muazin dalam salat Idul Adha. Kita perlu bersikap adil, sejak dalam pikiran kita.

Pertama, dari sisi bahasa, muazin itu bahasa Arab, isim fa’il dari addzana yuazdzinu. Artinya orang yang menyeru. Bukan semata dalam pengertian “orang yang azan” sebagaimana dikenal umum.

Dalam Al-Qur’an juga disebutkan kata muadzdzin (مؤذن) seperti dalam Surat al-A’raf ayat 44 dan Surat Yusuf ayat 70, yang berarti penyeru.

Dalam Surat al-A’raf disebutkan 44:

وَنَادٰٓى اَصْحٰبُ الْجَنَّةِ اَصْحٰبَ النَّارِ اَنْ قَدْ وَجَدْنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا حَقًّا فَهَلْ وَجَدْتُّمْ مَّا وَعَدَ رَبُّكُمْ حَقًّا ۗقَالُوْا نَعَمْۚ فَاَذَّنَ مُؤَذِّنٌۢ بَيْنَهُمْ اَنْ لَّعْنَةُ اللّٰهِ عَلَى الظّٰلِمِيْنَ

“Dan para penghuni surga menyeru penghuni-penghuni neraka, “Sungguh, kami telah memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan kepada kami itu benar. Apakah kamu telah memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan kepadamu itu benar?” Mereka menjawab, “Benar.” Kemudian penyeru (malaikat) mengumumkan di antara mereka, “Laknat Allah bagi orang-orang zalim”.

Dalam Surat Yusuf ayat 70 disebutkan:

فَلَمَّا جَهَّزَهُم بِجَهَازِهِمْ جَعَلَ ٱلسِّقَايَةَ فِى رَحْلِ أَخِيهِ ثُمَّ أَذَّنَ مُؤَذِّنٌ أَيَّتُهَا ٱلْعِيرُ إِنَّكُمْ لَسَٰرِقُونَ

“Maka tatkala telah disiapkan untuk mereka bahan makanan mereka, Yusuf memasukkan piala (tempat minum) ke dalam karung saudaranya. Kemudian berteriaklah seseorang yang menyerukan: “Hai kafilah, sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang mencuri”.

Sementara itu, dalam istilah keagamaan di masyarakat kita, orang yang menyeru azan sebagai panggilan salat adalah muazin. Namun, di masyarakat kita juga dikenal sebutan lain, yaitu bilal atau sebutan lainnya.

Dalam khazanah fikih Islam, istilah muazin juga tidak hanya dikhususkan bagi orang yang azan untuk pelaksanaan salat wajib.

Imam Syafii, pendiri madzhab Syafii yang dijadikan acuan beragama mayoritas masyarakat muslim Indonesia menggunakan istilah muazin bagi seseorang yang bertugas menyeru didirikannya salat Id. Dalam Kitab al-Umm (1/269), dijelaskan:

وَقَالَ الزُّهْرِيُّ: «وَكَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَأْمُرُ فِي الْعِيدَيْنِ الْمُؤَذِّنَ أَنْ يَقُولَ: الصَّلَاةُ جَامِعَةٌ» (قَالَ الشَّافِعِيُّ) : وَلَا أَذَانَ إلَّا لِلْمَكْتُوبَةِ فَإِنَّا لَمْ نَعْلَمْهُ أُذِّنَ لِرَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إلَّا لِلْمَكْتُوبَةِ، وَأُحِبُّ أَنْ يَأْمُرَ الْإِمَامُ الْمُؤَذِّنَ أَنْ يَقُولَ فِي الْأَعْيَادِ، وَمَا جُمِعَ النَّاسُ لَهُ مِنْ الصَّلَاةِ ” الصَّلَاةُ جَامِعَةٌ ” أَوْ إنَّ الصَّلَاةَ، وَإِنْ قَالَ: هَلُمَّ إلَى الصَّلَاةِ لَمْ نَكْرَهْهُ، وَإِنْ قَالَ: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ فَلَا بَأْسَ، وَإِنْ كُنْت أُحِبُّ أَنْ يَتَوَقَّى ذَلِكَ لِأَنَّهُ مِنْ كَلَامِ الْأَذَانِ، وَأُحِبُّ أَنْ يَتَوَقَّى جَمِيعَ كَلَامِ الْأَذَانِ، وَلَوْ أَذَّنَ أَوْ قَامَ لِلْعِيدِ كَرِهْتُهُ لَهُ وَلَا إعَادَةَ عَلَيْهِ.
[الشافعي، الأم للشافعي، ٢٦٩/١]

Dalam redaksi di atas, Imam Az-Zuhri juga menggunakan istilah “muazin” untuk orang yang diminta menyeru “as-shalatu jami’ah” saat salat Id.

Imam Syafii menjelaskan tidak ada azan saat salat Id, karena azan merupakan seruan khusus salat maktubah. Hanya saja Imam Syafii menyukai jika Imam meminta muazin untuk menyeru saat salat Id dengan seruan “as-shalata jamiah”, atau “as-shalah“. Atau dengan “Halumma ilas shalat” (ayo salat).

Imam al-Nawawi, sosok mujtahid yang menjadi rujukan utama ahli hukum Islam juga menuliskan istilah muazin untuk penyeru dalam salat Id. Dalam Kitab al-Majmu Syarh Muhadzdzab, juz 5 halaman 15, beliau mengutip perkataan Imam Syafii yang menyebutkan orang yang menyeru pelaksanaan salat Id itu dengan istilah “muazin”, saat beliau menjelaskan pembahasan mengenai hukum adzan dan iqamah dalam salat Id.

Setelah itu, Imam al-Nawawi menerangkan pandangan Imam Syafii dalam Kitab al-Umm hendaknya Imam meminta muazin untuk mengucapkan “as-Shalatu Jami’ah” ketika salat Id.

قَالَ الشَّافِعِيُّ فِي الْأُمِّ وَأُحِبُّ أَنْ يَأْمُرَ الْإِمَامُ الْمُؤَذِّنَ أَنْ يَقُولَ فِي الْأَعْيَادِ وَمَا جَمَعَ النَّاسَ مِنْ الصَّلَاةِ: الصَّلَاةَ جَامِعَةً أَوْ الصَّلَاةَ….
[النووي ,المجموع شرح المهذب ,5/15]

Imam Syafii berkata dalam Kitab al-Umm: Saya senang hendaknya Imam meminta muazin untuk berkata di dalam Id dan orang berkumpul untuk salat dengan perkataan: As-Shalata Jami’ah atau as-Shalah

Dari penjelasan ini bisa dipahami bahwa, dalam konteks ibadah, muazin dipahami orang yang menyeru dan mengajak melakukan ibadah. Jadi dalam konteks ibadah salat Idul Adha, muazin yang disebutkan Presiden adalah orang yang menyeru untuk mengajak melakukan salat Id. Jadi, sekali lagi saya tegaskan, tidak ada masalah dari sisi agama.

Dalam tradisi keagamaan kita, orang yang azan biasa juga disebut sebagai bilal. Padahal, bilal itu adalah nama orang yang biasa melakukan seruan. Dan itu tidak jadi masalah juga dari sisi agama. Kalau orang mau usil, itu juga bisa jadi objek bullying. Tetapi, penamaan itu kan yang paling penting adalah maksudnya bisa dipahami. Itu tidak terkait dengan pokok ajaran agama, jadi tidak patut diributkan. Bahkan, sekalipun di telinga sebagian kita tidak lazim, penyebutan istilah tersebut adalah memiliki basis argumentasi keagamaan.

Karenanya, energi kita perlu dicurahkan untuk hal-hal besar dan strategis, khususnya langkah dan kontribusi dalam penanggulangan COVID-19. Jangan habiskan energi untuk hal remeh, tidak substansial, dan narasi kebencian. Itu tidak baik.

Terakhir, diskusi tentang muazin dalam salat Id ini harus dijadikan momentum untuk membagusi diri dalam beragama, dengan kelengkapan ilmu agama. Semangat beragama itu harus, tapi tidak cukup hanya semangat. Semangat menjalankan agama harus disertai dengan pemahaman ilmu agama agar kita tidak terjebak pada ketersesatan akibat beragama tanpa ilmu.

Related posts

banner 468x60