Mengenang Kebersamaan Ikonik Antara Inter Milan & Pirelli

  • Whatsapp
javier zanetti

Cupang99 – Nerazzurri ucapkan salam perpisahan dengan sponsor Pirelli usai jalin kerja sama selama 26 tahun.

Nothing lasts forever, even cold November rain” begitu kata Axl Rose pada 1991 lalu. Memang, tiada yang abadi, bahkan dinginnya hujan di bulan November. Agaknya sepenggal lirik milik band rock Guns N’ Roses tersebut miliki kesamaan dan tepat dijadikan metafora atas apa yang terjadi pada Inter Milan belakangan ini. Sama ikoniknya, sama relevannya.

Read More

Awalnya tak nampak disimilaritas pada pasukan Nerazzurri ini. Mereka tetap gelar agenda yang lazim dilakukan klub sepak bola dalam menyambut musim baru. Uji tanding pra musim, meramaikan perburuan pemain di bursa transfer, juga perkenalkan seragam kandang terbaru mereka. Namun, jika menyorot poin terakhir, barulah ditemui perbedaan mencolok.

Fans tak lagi disambut logo besar Pirelli yang selalu tersemat di dada punggawa Nerrazurri. Sesuatu yang terasa segar, namun janggal secara bersamaan. Seperti yang diketahui, sejak awal Maret lalu santer diberitakan bahwa Pirelli dan Inter Milan segera mengakhiri kemitraan setelah mengarungi 26 musim bersama-sama.

Keduanya tak lagi seia sekata menyusul merebaknya kabar situasi finansial klub yang di ujung kebangkrutan. Padahal La Beneamata sangat identik dengan perusahaan ban yang kerap hiasi arena balap F1 tersebut. Bisa dikatakan bahwa, Pirelli adalah Inter, dan Inter adalah Pirelli.

Sepanjang sepak terjangnya, jersey Pirelli Inter Milan banyak tertampang nama-nama legendaris aktor lapangan hijau. Masih segar di ingatan bagaimana nama Christian “Bobo” Vieri dielu-elukan para Interisti pada akhir 90-an hingga awal 2000 yang dianggap sebagai salah satu ujung tombak terbaik sepanjang sejarah klub.

Atau bagaimana jersey bertuliskan nama (Javier) Zanetti banyak dikenakan anak 90-an, dan sontak menggali ingatan lawas tentang sepak bola kampung kerap memeriahkan sore di pinggiran kota. Tak lupa juga Ronaldo Nazario yang banyak menyabet gelar individu seperti Ballon d’Or 1997, FIFA World Player of the Year, UEFA Club Footballer of the Year, hingga World Soccer Player of the Year kala berseragam stip biru-hitam

Pirelli turut jadi saksi bisu pasang surutnya prestasi Inter Milan di Italia maupun kompetisi benua biru. Klub yang terbentuk 113 tahun silam itu sempat terseok-seok dan krisis juara pada kurun 1995 hingga 2004.Hampir satu dekade dilewati Inter, nahasnya hanya satu gelar Piala UEFA pada musim 1997/98 yang berhasil menambah koleksi di lemari trofi.

Baru pada musim 2005/2006, Inter Milan mengakhiri paceklik gelar usai mendapat durian runtuh buntut kasus Calciopoli yang mendera AC Milan serta Juventus. Si Nyonya Tua dan Rosonneri yang memimpin papan klasemen kala itu terbukti terlibat match fixing atau pengaturan skor bersama Fiorentina dan Lazio.

Tanpa tedeng aling-aling, Juventus yang sejatinya pemuncak klasemen dengan raihan 91 poin serta nyaris memboyong Scudetto mesti didepak keluar dari Serie A dan mesti berlaga di Serie B musim selanjutnya. Sedangkan tiga klub lainnya, disanksi pengurangan sebanyak 30 poin.

Kondisi itu sontak membuat Inter Milan yang berada di posisi tiga, mendapat ‘hadiah gratisan’ dengan ditetapkan sebagai kampiun oleh federasi sepak bola Italia (FIGC). Belum usai, pasukan yang dikomandoi oleh Roberto Mancini itu juga berhasil meraih piala di level domestik seperti Coppa Italia dan Super Coppa Italia.

Empat tahun berselang, Inter Milan bersama Jose Mourinho mencetak sejarah dengan mengantarkan Nerazzurri sebagai tim Italia pertama yang meraih treble winner musim 2009-2010. Ajang Coppa Italia jadi pembuka catatan prestasi Inter dengan mengalahkan AS Roma melalui gol tunggal Diego Milito. Paduan materi pemain yang mumpuni dan sentuhan tangan dingin The Special One mengantarkan Zanetti cs

Trofi “Si Kuping Lebar” menjadi penutup yang manis usai pecundangi Bayern Munich 2-0. Milito jadi bintang kemenangan Inter malam itu dengan dwigol ke jala Hans-Jörg Butt. Usai alami euforia kemenangan, musim-musim selanjutnya justru alami kemunduran.

Bahkan setelah pengusaha asal Indonesia, Erick Thohir membeli 70 persen saham, Inter masih susah payah tembus zona Liga Champions. Prestasi terbaik Inter bersama Thohir ialah pada musim 2015/2016 dan 2017/2018, itupun hanya mampu menempati posisi keempat di klasemen akhir,

Namun, dua musim terakhir Pirelli dengan Inter Milan rupanya catatkan hasil positif. Sejak dilatih Antonio Conte, Inter finis sebagai runner-up di Serie A dan Liga Europa, serta tembus semi-final Coppa Italia musim 2019-2020. Musim setelahnya, Inter bahkan ungguli kompatriotnya, AC Milan, dalam perebutan titel juara Serie A. Namun, rupanya Nerazzurri masih tak mampu berbuat banyak di Liga Champions, mereka tak berdaya bahkan tak mampu sekadar lolos fase grup.

Menatap musim 2021/2022, bersamaan dengan berakhirnya catatan panjang Pirelli bersama Inter, Antonio Conte turut lengser dari kursi kepelatihan dan digantikan oleh Simeone Inzaghi. Sedangkan tahta Pirelli diteruskan oleh perusahaan blockchain asal Malta, Socios, dengan durasi kerja sama selama setahun dan sutikan dana sebesar 20 juta euro.

Platform bentukan Chiliz ini nantinya mempromosikan produk FAN TOKEN $INTER yang memungkinkan fans Inter dari segala penjuru dunia saling terkoneksi. Diluncurkannya jersey Inter beraksen sisik ular yang telah tersemat sponsor baru itu pada pertengahan Juli lalu, sekaligus menandai dibukanya lembaran baru perjalanan Inter Milan.

Related posts

banner 468x60